Search This Blog

Bukit Zaitun





Bagi umat kristiani, Bukit Zaitun memiliki makna signifikan. Bukit ini menjadi saksi beragam kisah suka duka umat Tuhan. Di tempat inilah Yesus mengajarkan doa Bapa Kami. Dari tempat ini pula Yesus menyampaikan pesan eskatologis-Nya dan naik ke surga.
Dalam rubrik Musafir edisi Mei 2006 saya pernah menuliskan kisah perjalanan saya ke Bukit Three Sisters (Tiga Saudari) yang berada di wilayah Blue Mountains, New South Wales, Australia. Kali ini saya berbagi kisah tentang bukit lain yang jauh lebih populer, yaitu Bukit Zaitun.
GUNUNG SKANDAL

Bukit Zaitun terletak di sebelah Timur Yerusalem dan dipisahkan oleh Lembah Kidron. Bukit ini pun memiliki tiga puncak. Puncak pertama di utara. Puncak yang memiliki tinggi 818 meter ini oleh umat Kristen disebut Viri Galilaei atau orang-orang Galilea.
Puncak kedua berada di tengah. Puncak dengan ketinggian 808 meter ini dikenal sebagai tempat Yesus naik ke surga. Saya dan isteri menghabiskan cukup banyak waktu di tempat ini. Saya mencoba membayangkan betapa campur aduknya perasaan orang-orang yang menyaksikan Yesus naik ke surga dari tempat ini.

Puncak ketiga yang berada di Selatan dengan ketinggian 734 meter disebut Gunung Skandal. Kok aneh sih namanya? Konon di tempat inilah dulu Raja Salomo mendirikan tempat pemujaan dewa-dewa yang dianut isteri-isterinya. Skandal apa yang dilakukan Salomo? “Adapun raja Salomo mencintai banyak perempuan asing. Di samping anak Firaun ia mencintai perempuan-perempuan Moab, Amon, Edom, Sidon dan Het, padahal tentang bangsa-bangsa itu TUHAN telah berfirman kepada orang Israel: “Janganlah kamu bergaul dengan mereka dan mereka pun janganlah bergaul dengan kamu, sebab sesungguhnya mereka akan mencondongkan hatimu kepada allah-allah mereka.” Hati Salomo telah terpaut kepada mereka dengan cinta” (1 Raj. 11:1-2).
Bukan hanya itu, Salomo pun bertindak lebih jauh lagi dengan mendirikan bukit pengorbanan bagi mereka (1 Raj. 11:5-8). Perjanjian Lama bahkan memberinya nama Bukit Kebusukan (2 Raj. 23:13).
BERAGAM KISAH MANUSIA

Saat mengunjungi tempat ini bersama rombongan yang saya pimpin.Jerryas, pemandu lokal kami, sering mengucapkan kata-kata: “Inilah tempat Yesus pernah menjejakkan kaki-Nya.” Ucapannya itu bisa kita runut di Alkitab.

Bukit Zaitun menyimpan kisah suka maupun duka. Ketika Absalom melakukan kudeta terhadap ayahnya, Daud melarikan diri ke bukit ini. “Daud mendaki bukit Zaitun sambil menangis, kepalanya berselubung dan ia berjalan dengan tidak berkasut.” (2 Sam. 15:30).
Yesus amat akrab dengan tempat ini. Banyak waktu yang dihabiskan bersama murid-murid-Nya di sini. Ketika hendak masuk Yerusalem, Yesus meminta kedua murid-Nya mencarikan keledai di suatu tempat yang bernama Betfage (Mat. 21:1-2).

Para murid-Nya pun bertanya tentang akhir zaman di bukit ini (Mat. 24:3). Di Bukit Zaitun ini pula Yesus memberitahu murid-murid-Nya bahwa iman mereka akan goncang. Peristiwa ini terjadi sebelum Petrus menyangkali-Nya sebanyak tiga kali (Mat. 26:30). Bahkan di tempat ini pulalah Yesus bermalam setelah mengajar di Bait Allah pada siang harinya (Luk. 21:37).
TAMAN GETSEMANI

Pada zaman Yesus, bukit ini memang dipenuhi oleh pohon zaitun (Ibrani zayit; Yunani elaia). Namun, hutan lebat penuh pohon zaitun itu telah gundul pada zaman Titus. Ketika saya ke sana, pohon zaitunnya tinggal jarang-jarang.

Salah satu peristiwa yang sangat kita kenal juga terjadi di Bukit Zaitun. Di kaki Bukit Zaitun, sekarang berdiri Gereja Segala Bangsa, terdapat taman yang dipenuhi pohon zaitun. “Pohon zaitun ini diperkirakan sudah ada sejak zaman Yesus,” ujar pemandu wisata. Batangnya memang kelihatan sudah sangat tua, sehingga seperti bonsai, tetapi ukurannya besar (kok ada bonsai besar he, he, he). Taman ini indah. Di taman yang kita kenal dengan nama Getsemani inilah Yesus berdoa dengan sangat serius sehingga “peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah” (Luk. 22:44).

Jika kita menuruni Bukit Zaitun kita akan melihat Gereja Pater Noster (Bapa Kami). Di gereja ini ada doa Bapa Kami dalam bahasa Indonesia dan Jawa. Setelah melewati gereja ini kita akan menemui Gereja Dominus Flevit (Tuhan Menangis). Di tempat inilah Yesus menangis. Gereja ini dibangun pada 1891 untuk memperingati peristiwa itu. Dari jendela kaca di altar, kita bisa menjenguk kota Yerusalem.

Apa yang Yesus tangisi? Ketika menyusuri punggung bukit di sebelah selatan, begitu Dia melihat Yerusalem dari punggung Bukit Zaitun itu, Dia menangis karena tahu masa depan kota itu. “… Sebab akan datang harinya, bahwa musuhmu akan mengelilingi engkau dengan kubu, lalu mengepung engkau dan menghimpit engkau dari segala jurusan, dan mereka akan membinasakan engkau beserta dengan pendudukmu dan karena engkau tidak mengetahui saat, bilamana Allah melawat engkau” (Luk. 19:41-44).

JEJAK KAKI YESUS
Di bukit ini jugalah Yesus naik ke surga. Di sini dibangun bangunan bundar dengan atap terbuka yang dinamai Imbomon. Di dalamnya ada bekas jejak kaki di atas batu yang diperkirakan sebagai jejak kaki Yesus ketika naik ke surga. Sampai sekarang jejak kaki itu masih terpelihara dengan baik.
Saya mencoba berdiri di atas jejak yang sama sambil menengadah ke atas dan membayangkan malaikat yang menegur orang-orang Galilea: “Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke surga” (Kis. 1:11).
Yang menarik, di lereng Bukit Zaitun ini ada makam orang Yahudi yang tertua dan terbesar. “Karena tempatnya terbatas, harganya jadi mahal sekali,” ujar Jerryas. “Ditambah lagi banyak orang non-Yahudi juga ingin dikubur di sini, karena mereka ingin saat dibangkitkan nanti berada di tempat yang tepat.” Rupanya mereka mempercayai nubuat Nabi Yoel. “Aku akan membawa mereka ke Lembah Yosafat…” (Yoel 3:1-2).

Pada kedatangan Kristus yang kedua kali, sering disebut 4K, Bukit Zaitun akan kembali menjadi saksi sejarah. “Pada waktu itu kaki-Nya akan berjejak di bukit Zaitun yang terletak di depan Yerusalem di sebelah timur. Bukit Zaitun itu akan terbelah dua dari timur ke barat, sehingga terjadi suatu lembah yang sangat besar; setengah dari bukit itu akan bergeser ke utara dan setengah lagi ke selatan” (Zak. 14:4).

Saat berada di Bukit Zaitun ini, saya merasa Tuhan menuntun saya dalam pemahaman yang lebih mendalam tentang Yesus, kasih dan karya-Nya di muka bumi
Read More .......

Fakta Isa Al-Masih memang wafat

You're reading...
Al-Masih


Umat Muslim tidak percaya Isa Al-Masih wafat di salib. Mereka meyakini Allah telah mengangkat Isa Al-Masih ke langit guna menyelamatkan-Nya dari tentara Romawi yang akan membunuh-Nya.
Pandangan ini didasarkan pada salah satu ayat yang terdapat dalam Al-Quran, “Dan karena ucapan mereka: “Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, ’Isa putera Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka…..” (Qs 4:157)
Tujuan Isa Al-Masih Datang ke Dunia

Perlu diketahui apa yang menjadi tujuan Isa Al-Masih datang ke dunia. Injil, Rasul Besar Matius 1:21 mencatat, “Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus (Isa Al-Masih), karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.”

Ayat di atas menjelaskan, tujuan Isa Al-Masih datang ke dunia untuk menyelamatkan manusia dari ikatan belenggu dosa. Yaitu dosa yang telah memisahkan manusia dari Allah sehingga manusia berpindah dari kemuliaan Allah kepada kebinasaan kekal. Banyak usaha telah dilakukan manusia agar dapat kembali pada kemuliaan Allah, tetapi semua adalah sia-sia.

Kalimat Allah, Isa Al-Masih yang adalah kudus dan suci, satu-satunya Pribadi yang dapat mendamaikan manusia dengan Allah. Dia telah menjadi kurban dan tebusan bagi dosa manusia. “Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah” (Injil, Surat 2 Korintus 5:21)
 
Fakta Isa Al-Masih Memang Wafat
Injil, Rasul Besar Matius, telah menulis bahwa tujuan utama kedatangan Isa Al-Masih ke dunia untuk menyelamatkan manusia dari ikatan belenggu dosa. Inilah fakta utama mengapa Isa Al-Masih harus wafat. Tujuan ini hanya dapat digenapi dengan kematian Isa Al-Masih. Hanya dengan kematian-Nya di saliblah dosa manusia dapat dibayar lunas.

Walaupun satu ayat Al-Quran mengatakan bahwa Isa Al-Masih tidak tersalib, namun ayat lain mengatakan dengan jelas bahwa Dia wafat. “Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku (Isa Al-Masih), pada hari aku dilahirkan, pada hari aku (Isa Al-Masih) meninggal dan pada hari aku (Isa Al-Masih) dibangkitkan hidup kembali” (Qs 19:33).

Injil juga memberi kesaksian yang sama, “Lalu Isa Al-Masih berseru dengan suara nyaring: “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.” Dan sesudah berkata demikian Ia menyerahkan nyawa-Nya” (Injil, Rasul Lukas 23:46)

Kematian Isa Al-Masih di salib juga menggenapi nubuatan Nabi Besar Yesaya, “Orang menempatkan kuburnya di antara orang-orang fasik, dan dalam matinya ia ada di antara penjahat-penjahat, sekalipun ia tidak berbuat kekerasan dan tipu tidak ada dalam mulutnya” (Kitab Nabi Besar, Yesaya 53:9)
 
Isa Al-Masih dan Keselamatan
Jika Isa Al-Masih tidak wafat, maka tidak ada penebusan dosa. Kematian-Nya telah memberi hidup bagi manusia. Ia membangkitkan orang dari kematian sebelum Dia sendiri mati. Dia, yang tidak berdosa telah menyerahkan diri-Nya bagi orang berdosa dan menjadi tebusan serta memberi hidup bagi orang berdosa. “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia (Isa Al-Masih), sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.” (Injil, Kisah Para Rasul 4:12)
Hanya mereka yang telah menerima keselamatan dari Isa Al-Masih yang dapat mengerti bahwa Dia datang untuk menebus dosa. Kematian-Nya telah memberi hidup kekal bagi mereka yang percaya kepada-Nya.
Read More .......

Percaya akan Kitab Taurat

Qs 5:46 berkata, “Dan Kami iringkan jejak mereka (nabi-nabi Bani Israil) dengan ’Isa putera Maryam, membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu: Taurat…”
Ayat di atas membuktikan bahwa yang benar dihadapan Allah adalah Kitab Taurat.
Taurat Menubuatkan Kedatangan Isa Al-Masih

Injil adalah berita Kabar Baik yang dibawa oleh Isa Al-Masih. Berita ini sudah dinubuatkan dalam kitab sebelum Injil, oleh nabi Yesaya “Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.” (Kitab Nabi Besar Yesaya 9:5)
Nubuat serupa juga terdapat dalam Kitab Taurat, “Seorang nabi akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara saudara mereka, seperti engkau ini; Aku akan menaruh firman-Ku dalam mulutnya, dan ia akan mengatakan kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadanya.” (Taurat, Kitab Ulangan 18:18)

Selain kedua ayat di atas, masih ada beberapa ayat lain dalam kitab sebelum Injil yang menubuatkan kedatangan Isa Al-Masih. Isa Al-Masih Menggenapi Nubuat Taurat

Kedatangan Isa Al-Masih telah menggenapi nubuat yang disampaikan para nabi Allah ratusan tahun sebelumnya. Selama berada di dunia, Dia juga telah melakukan apa yang menjadi tugas-Nya, yaitu menyelamatkan manusia dari ikatan belenggu dosa. Dosa yang telah memisahkan manusia dari Kemuliaan Allah. Isa Al-Masih juga telah menjadi “Jalan” agar manusia dapat belajar mengenai “Kebenaran” tentang Allah dan menemukan “Hidup” bersama Allah.

Selain itu, Isa Al-Masih juga telah menggenapi nubuat tentang bagaimana kematian-Nya, seperti yang disampaikan oleh Nabi Besar Yesaya, “Tetapi dia (Isa Al-Masih) tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia (Isa Al-Masih) diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya (Isa Al-Masih), dan oleh bilur-bilurnya (Isa Al-Masih) kita menjadi sembuh” (Kitab Nabi Besar Yesaya 53:5).

Demikianlah, kedatangan Isa A-Masih telah membenarkan kitab sebelumnya, yaitu Taurat: “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.” (Injil Rasul Besar Matius 5:17)
 
Umat Beragama Wajib Mengimani Semua Kitab Allah Termasuk Taurat
Salah satu rukun iman Islam adalah beriman kepada kitab-
Read More .......

Pengikut Tuhan Yesus Di Atas Orang-orang Kafir

Kata ‘Kafir’ berasal dari bahasa Arab. Secara harfiah berarti orang yang menyembunyikan atau mengingkari kebenaran. Dalam terminologi kultural, kata ini digunakan dalam agama Islam untuk merujuk kepada orang-orang yang mengingkari nikmat Allah.

Dalam penerapannya, kata kafir ditujukan oleh sebagian besar umat Muslim kepada pengikut Isa Al-Masih atau orang Kristen. Alasannya, karena orang Kristen tidak mengakui Muhammad sebagai nabi terakhir dan Al-Quran sebagai wahyu yang langsung diturunkan Allah kepada Muhammad.
Apa Kata Al-Quran Tentang Pengikut Isa Al-Masih?
Sayangnya, klaim yang diberikan umat Muslim terhadap orang Kristen tidak didukung Al-Quran. Terdapat ayat dalam Al-Quran yang bertentangan dengan penilaian orang Muslim terhadap orang Kristen.
“…….dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu (Isa Al-Masih) di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat…” (Qs 3:55)

Al-Quran mengatakan bahwa pengikut Isa Al-Masih di atas orang-orang kafir. Jelas ayat ini membantah klaim yang diberikan oleh umat Muslim selama ini terhadap orang Kristen.
Dan lagi, bila merujuk pada pengertian dari kata ‘kafir’ itu sendiri, jelas pengikut Isa Al-Masih bukanlah orang-orang yang menyembunyikan atau mengingkari kebenaran-kebenaran yang terdapat dalam kitab suci Allah. Mereka sebagai pengikut Isa Al-Masih adalah orang-orang yang percaya akan iman yang timbul dari kitab suci Allah.
Siapakah Pengikut Isa Al-Masih?

Pengikut Isa Al-Masih adalah orang-orang yang mengikuti ajaran Isa Al-Masih. Secara literal, pengikut Isa Al-Masih dikenal juga sebagai orang Kristen/Nasrani.
Seorang pengikut Isa Al-Masih adalah mereka yang telah menerima Keselamatan dan hidup kekal dari Isa Al-Masih. “Maka Isa Al-Masih berkata pula kepada orang banyak, kata-Nya: “Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup.” (Injil, Rasul Besar Yohanes 8:12)
Demikian, pengikut Isa Al-Masih disebut juga orang-orang yang hidup dalam terang, karena mereka telah menerima terang dari Isa Al-Masih.
Keselamatan dan Pengikut Isa Al-Masih

Menurut Al-Quran, apa yang dituduhkan umat Islam terhadap orang Kristen sebagai orang kafir tidaklah benar. Dengan jelas Al-Quran telah mengatakan bahwa orang-orang Kristen akan ditempatkan di atas orang-orang kafir. Artinya, orang-orang Kristen bukanlah orang kafir. Orang Kristen tidak sama dengan orang kafir.

Agama Islam menggunakan kata ‘kafir’ untuk merujuk kepada orang-orang yang mengingkari nikmat Allah. Nikmat yang dianugerahi Allah jelas merupakan kenikmatan akan hidup yang kekal.
Isa Al-Masih bersabda, “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya.” (Injil, Rasul Besar Yohanes 11:25-26)

Demikianlah Isa Al-Masih datang ke dunia untuk memberi hidup kekal bagi siapa saja yang percaya kepada-Nya. Dia juga memberi jaminan bagi orang-orang yang mau mengikut Dia, yaitu hidup kekal. Maka dari itu, dengan menerima Isa Al-Masih, kita akan memperoleh anugerah nikmat hidup kekal dan otomatis ditempatkan di atas orang-orang kafir.
Read More .......

Mengapa Tidak Ada “Shalawat Nabi” Untuk Isa Al-Masih?

Bershalawat artinya memohon supaya Allah memberi rahmat, kemuliaan dan keselamatan bagi seseorang. (Catatan Kaki No. 1230-31, Qs. 33:56, “Al-Quran Departemen Agama RI,” tahun 1978). Demikian shalawat hanya dibutuhkan seseorang yang memerlukan keselamatan.
Bagaimana dengan Isa Al-Masih? Isa Al-Masih bukan hanya Pribadi yang dihargai oleh umat Kristen dan Muslim. Ia juga Pribadi yang tidak membutuhkan doa “shalawat nabi”.

Berikut alasan mengapa Isa Al-Masih tidak membutuhkan doa “shalawat nabi” menurut kebenaran firman Allah:
(1) Tidak Ada Perintah Untuk Mendoakan-Nya
Dalam semua wahyu Isa Al-Masih kepada pengikut-Nya, tidak ada satupun perintah untuk bershalawat bagi-Nya. Maka, pengikut-Nya tidak perlu bershalawat bagi-Nya.
(2) Isa Al-Masih Sudah Berada di Sorga
Al-Quran dan Injil memberi kesaksian yang sama, yaitu Isa Al-Masih berada di sorga.
Qs 19:33 menulis, “Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku (Isa Al-Masih), pada hari aku dilahirkan, pada hari aku (Isa Al-Masih) meninggal dan pada hari aku (Isa Al-Masih) dibangkitkan hidup kembali”

Demikian pula dalam Injil, “Sesudah Ia (Isa Al-Masih) mengatakan demikian, terangkatlah Ia disaksikan oleh mereka, dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka.” (Injil, Kisah Para Rasul 1:9)
Isa Al-Masih saat ini telah berada di sorga. Dia tidak memerlukan doa “shalawat nabi” untuk keselamatan-Nya.
(3) Isa Al-Masih Berasal Dari Sorga
Isa Al-Masih adalah Kalimat Allah yang kekal. Dia menjelma menjadi manusia. Artinya selama kekekalan, sorga adalah tempat kediaman-Nya. Dia datang ke dunia hanya untuk waktu singkat, tiga puluh tiga tahun, untuk menyediakan jalan keselamatan bagi manusia.
Bila Dia diangkat dari dunia ke sorga Dia kembali ke rumah kekal-Nya. Itu tempat tinggal-Nya dari kekekalan.
(4) Doa Shalawat Akan Menyebabkan Kita Meragukan Ke-Nabian-Nya
Bershalawat artinya memohon keselamatan bagi seseorang. Bila seorang nabi memerlukan doa shalawat, bukankah hal ini dapat meragukan kenabiannya?
Setiap umat beragama tidak perlu meragukan pengajaran keselamatan Isa Al-Masih. Dia berasal dari sorga. Saat ini Dia berada di sorga. Dia tidak memerlukan doa-doa dari pengikut-Nya untuk keselamatan-Nya.
(5) Isa Al-Masih Adalah Juruselamat
Jelas, seorang yang memerlukan doa pengikutnya tidak dapat disebut sebagai Juruselamat. Bagaimana mungkin seseorang yang keselamatannya saja belum pasti dapat menyelamatkan pengikutnya?
Isa Al-Masih adalah Juruselamat. Isa Al-Masih tidak memerlukan doa pengikut-Nya agar selamat. Sebaliknya, pengikut-Nya perlu berdoa agar Isa Al-Masih menyelamatkan mereka.
(6) Isa Al-Masih Mendoakan Umat-Nya

Bukti yang menjelaskan bahwa Isa Al-Masih mendoakan umat-Nya, terdapat dalam Injil, Rasul Besar Yohanes 17:1-26. Selain mendoakan, Isa Al-Masih juga memberikan keselamatan sorgawi (Injil, Rasul Besar Yohanes 5:24, 5:28 14:1-3, 14:6; Injil Rasul Lukas 23:43).
Orang yang sungguh menerima Isa Al-Masih sebagai Penyelamat, tidak merasa ragu akan keselamatanya. Orang tersebut pasti masuk sorga.

Isa berkata: “Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku” (Injil, Rasul Besar Yohanes 10:29)
Bagaimana Dengan Keselamatan Pembaca?

Dalam Injil, Rasul Besar Yohanes 3:16, dinyatakan bahwa Isa Al-Masih sendirilah yang mampu memberikan keselamatan kekal sorgawi.

Isa Al-Masih memberi jaminan indah ini kepada murid-murid-Nya:“Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. . . . . Aku pergi ke situ [sorga] untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada” (Rasul Besar Yohanes 14:2-3).
Read More .......

Muhammad Adalah Ciptaan Allah, Bagaimana Isa Al-Masih?

Setiap makhluk hidup yang ada di alam semesta adalah ciptaan Allah. Pada saatnya nanti, semua akan mati, dan kembali ke asalnya. Demikianlah, setiap makhluk hidup mempunyai awal dan akhir.
Memang jelas bahwa semua makhluk hidup diciptakan Allah. Tetapi ternyata ada satu Pribadi yang datang ke dunia tanpa diciptakan Allah. Dia tidak berawal dan tidak berakhir. Dia Kekal. Dia disebut “Alfa dan Omega”.

Pribadi itu bukanlah Adam. Sebab Adam diciptakan Allah dari tanah dan debu. “Ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup” (Taurat, Kitab Kejadian 2:7).
Bukan pula Muhammad. Muhammad lahir karena adanya hubungan biologis antara wanita dan pria.
Siapakah Pribadi Yang Tidak Diciptakan?

Pribadi itu adalah Isa Al-Masih!. Dia tidak pernah diciptakan. Sebab Kalimat Allah kekal. Seperti halnya Allah. Dia bukan manusia biasa, yang lahir karena hubungan wanita dan pria. Sebab wanita yang melahirkan Dia adalah seorang perawan suci.

“Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus (Isa Al-Masih). Kata Maria kepada malaikat itu: “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” Jawab malaikat itu kepadanya: “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah
” (Injil, Rasul Lukas 1:31;34-35).
“Ingatlah, ketika Malaikat berkata: “Hai Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kalimat (yang datang) daripada-Nya, namanya Al Masih Isa putra Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah)” (Qs 3:45).
 
Isa Al-Masih Kembali Ke Sorga
Jika Isa Al-Masih tidak pernah diciptakan Allah, lalu dari manakah asalnya? Dari sorga! Itulah sebabnya, Dia kembali ke sorga.
“Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku (Isa Al-Masih), pada hari aku dilahirkan, pada hari aku (Isa Al-Masih) meninggal dan pada hari aku (Isa Al-Masih) dibangkitkan hidup kembali” (Qs 19:33).

Kesaksian yang sama dalam Injil, “Sesudah Ia (Isa Al-Masih) mengatakan demikian, terangkatlah Ia [Isa Al-Masih] disaksikan oleh mereka, dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka” (Injil, Kisah Para Rasul 1:9).
 
Tujuan Isa Al-Masih Datang Ke Dunia
Lalu, mengapa Dia datang ke dunia? Menurut Al-Quran, Isa Al-Masih adalah suatu “tanda” bagi manusia. “. . . Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami . . . . ” (Qs 19:21).

Demikianlah, Isa Al-Masih datang ke dunia untuk memberi Keselamatan bagi setiap orang, “Supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Injil, Rasul Besar Yohanes 3:16).

Dan Keselamatan hanya ada dalam nama-Nya, “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia [Isa Al-Masih], sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan” (Injil, Kisah Para Rasul 4:12).
Read More .......

Jaminan Pasti Dalam Hidup

Beberapa waktu yang lalu, pemerintah Indonesia dibuat pusing oleh perompak Somalia. Perompak ini telah membajak kapal milik perusahaan swasta Indonesia. Bersyukur pemerintah berhasil menyelamatkan warganya yang disandera dalam kapal tersebut.
Demikianlah seharusnya, pemerintah sebuah negara menjamin keselamatan rakyatnya.
Berani Menjamin

Bila situasi penjaminan di atas dikaitkan dalam ranah agama, maka hanya ada satu Pribadi yang dapat memberikan jaminan. Yaitu jaminan Keselamatan sorgawi. Jaminan ini sangatlah penting, sebab sia-sialah usaha manusia dalam mendapatkan keselamatan melalui amal ibadah mereka.
Pribadi yang dapat memberikan jaminan tersebut adalah Kalimat Allah. “Isa bersabda, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa (Allah), kalau tidak melalui Aku.” (Injil, Rasul Besar Yohanes 14:6)

Al-Quran sendiri mendukung jaminan yang dinyatakan Isa Al-Masih, “…sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kalimat daripada-Nya, namanya Al Masih `Isa putera Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat…” (Qs 3:45)
Jelas, sebagai ‘Penjamin’ haruslah yang benar-benar yang terkemuka. Seperti halnya para sandera perompak Somalia, dijamin oleh orang terkemuka di negara ini, yaitu Pemerintah. Demikian juga dengan dosa manusia, hanya dapat dijamin oleh ‘Penjamin’ yang terkemuka di dunia bahkan di akhirat.

Jaminan Keselamatan Isa Al-Masih
Sebagai Hakim Yang Adil, juga terkemuka di dunia dan di akhirat, sungguh layak bila Isa Al-Masih dapat memberi jaminan Keselamatan bagi mereka yang percaya kepada-Nya.
Isa bersabda, “dan Aku (Isa Al-Masih) memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku.” (Injil, Rasul Besar Yoh 10:28)
Read More .......

Berapakah Allahmu?


“Orang Kristian menyembah tiga tuhan!!” Tuduhan yang palsu lagi tidak munasabah ini sering kali ditujukan kepada orang Kristian oleh mereka yang kurang meneliti pengajaran Hazrat Isa al-Masih tentang ‘Ketuhanan’ yang sebenarnya. Sesungguhnya sumber dakwaan ini boleh dikesan dari Al-Quran sendiri. Di bawah adalah beberapa petikan nas-nas khusus tentang tuduhan ini:
Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: Sesungguhnya Allah ialah Al-Masih anak Maryam. Katakanlah (ya Muhammad): Siapakah yang akan mempertahankan dari (azab) Allah, jika Ia hendak membinasakan Al-Masih, anak Maryam dan ibunya serta orang-orang di muka bumi semuanya? (5 Al-Maa-Idah ayat 17)

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: Sesungguhnya Alla, (Tuhan) yang ketiga dari tiga. Padahal tak adalah Tuhan, kecuali Tuhan yang Esa. (5 Al-Maa-Idah ayat 73)
Ingatlah ketika Allah berfirman: Ya Isa anak Maryam, adakah engkau katakan kepada manusia: Ambillah aku dan ibuku menjadi Tuhan, selain dari pada Allah. Ia menjawab: Mahasuci Engkau (ya Allah). Tak pantas bagiku, bahawa kukatakan sesuatu, yang bukan hakku. Jika kukatakan demikian, tentu Engkau mengetahuinya. (5 Al-Maa-Idah ayat 116)

Dari ayat-ayat di atas, kita dapati bahawa Muhammad telah berpendapat bahawa orang Kristian menyembah Maryam, Isa dan Allah sebagai tiga tuhan yang berasingan. Melalui kajian buku-buku agama yang diragui kebenarannya (“Injil-injil” palsu) yang wujud di tanah Arab pada masa Nabi Muhammad, telah disahkan bahawa beliau sememangnya ada melihat penyembahan Maryam dan Isa dan telah mendengar mereka yang kurang-pendidikan berkata “Allah itu Tiga”. Sedihnya, ini bukan kepercayaan mahupun kesaksian pengikut-pengikut Isa Al-Masih yang sebenar. Adalah tragis bahawa Muhammad tidak pernah berjumpa dengan seorang Kristian ortodoks yang dapat memberi keterangan bernas kepadanya tentang keesaan Allah, sambil memperkenalkan Dia sebagai Bapa, Anak dan Roh Kudus.

Untuk orang Kristian yang hidup dalam masyarakat Islam, adalah sangat penting untuk kita memiliki satu fahaman yang jelas tentang keesaan Allah (dari Alkitab) yang dapat meyakinkan orang Islam bahawa kita sememangnya menyembah satu Allah yang benar, tanpa menafikan Dia sebagai Bapa, Anak dan Roh. Petikan-petikan di bawah mungkin dapat membantu:
Dengarlah hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! (Ulangan 6:4)
Jawab Isa kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. (Matius 22:37,38)
(Kata Isa Al-Masih) Aku dan Bapa adalah satu. Sekali lagi orang-orang Yahudi mengambil batu untuk melempari Isa. Jawab orang-orang Yahudi itu: Bukan kerana suatu pekejaan baik maka kami mahu melempari Engkau, melainkan kerana Engkau menghujat Allah dan kerana Engkau, hanya seorang manusia saja, menyamakan diriMu dengan Allah.” (Yohanes 10:30, 31, 33)
Isa mendekati mereka dan berkata: “KepadaKu telah diberikan segala kuasa di syurga dan di bumi. Kerana itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus. (Matius 28:8,19)

Senarai ayat-ayat di atas merangkumi beberapa ayat yang sukar dalam Alkitab tentang Triniti (istilah khas yang membawa ungkapan kebenaran identiti Allah sebagai Bapa, Anak dan Roh), dan juga beberapa ayat yang secara langsung menyatakan Allah itu satu. Sememangnya ada hal-hal yang hampir mustahil untuk difahami dan diterangkan tentang Allah: Bapa, Anak dan Roh Kudus.
Didalam Kitab Injil pengikut-pengikut Isa al-Masih juga menyembah kepada hanya SATU Tuhan. Petikan berikut:

“Kamu percaya Allah itu hanya SATU. Bagus! Roh-roh jahat (iblis) pun percaya akan hal itu dan gementar…” (Yakob 2 ayat 19).
Menunjukkan bahawa umat Kristian dari permulaannya lagi telah memegang teguh kepada ajaran Tauhid atau Keesaan Tuhan. Mereka tidak berganjak daripada pegangan akidah mereka yang utama itu sehingga ke hari ini!
Alkitab sendiri mungkin mengandungi jawapan kepada subjek yang agak rumit ini. Dalam Kejadian 1:26 dan 27 ada tertulis:

Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia, menurut gambar dan rupa Kita . . . Maka Allah menciptakan manusia menurut gambarNya, menurut gambar Allah diciptakanNya dia; laki-laki dan perempuan diciptakanNya mereka.

Apakah mungkin dengan menganalisis diri kita sendiri (yang telah diciptakan dalam imej Allah), kita mungkin menemukan kunci tentang sifat Allah yang membingungkan ini? Saya fikir Ya. Doa berkat rasul Paulus pada penghujung Suratnya yang pertama kepada orang Kristian di Tesalonika boleh tolong menjelaskan :

Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Isa Al-Masih. (1 Tesalonika 5:23)
Saya sebagai manusia adalah satu makhluk dengan satu roh, satu jiwa dan satu tubuh; Diri saya bukan tiga, ‘saya’ hanya satu. Dengan cara yang sama, Allah bagi umat Kristian adalah satu walaupun Dia telah menyatakan diriNya kepada manusia sebagai Bapa, Anak dan Roh Kudus. Saya bukanlah ‘saya’ tanpa roh, jiwa atau tubuh saya. Allah juga bukanlah Allah jika pada masa yang sama Dia bukan Bapa, Anak dan Roh. Allah adalah satu entiti yang tidak dapat dipisahkan. Bapa, Anak dan Roh Kudus berfungsi sebagai SATU – satu tujuan, satu kehendak, satu takhta, satu KerajaanNya dan satu Allah.

Berbagai andaian dan gambaran telah dicadangkan oleh orang Kristian untuk menjelaskan penyataan Allah yang unik ini. Bermula dengan idea bahawa sifat Allah adalah Kasih sayang, seorang Kristian terkenal telah cuba menerangkan Allah sebagai satu tarian kasih – seorang kekasih, seorang yang dikasihi dan kasih itu sendiri. Seorang penulis Kristian pula membayangkan Allah sebagai seorang Pelukis – Bapa sebagai minda pelukis, Anak sebagai penyataan kreativiti pelukis itu manakala Roh adalah tenaga kreatif yang memenuhi dan sedia ada untuk penggunaan pelukis itu. Adalah amat sesuai untuk menyatakan bahawa apabila membincang tentang Allah sebagai Bapa, Anak dan Roh, tidak ada cara lain untuk memahami serta menghayati Dia!

Apabila kita memerhatikan fahaman orang Kristian tentang Allah, kita sedar bahawa ianya kena pada tempatnya. Mereka mengenal Allah sebagai Bapa yang penyayang, Anak yang memahami dan rakan sesama manusia, dan Roh yang memberi hidup, semuanya disatukan dalam satu kesatuan kasih yang sempurna lagi indah. Allah hidup dalam RohNya, dinyatakan dalam Kalimat yang Hidup (AnakNya), dan adalah Bapa bagi kita semua yang menerima hakikat ini.
Read More .......